Museum Batik
Pekalongan
Museum Batik Pekalongan
GEDUNG MUSEUM
Agustus 2017
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
31 Juli 2017 1 Agustus 2017 2 Agustus 2017 3 Agustus 2017 4 Agustus 2017 5 Agustus 2017 6 Agustus 2017
7 Agustus 2017 8 Agustus 2017 9 Agustus 2017 10 Agustus 2017 11 Agustus 2017 12 Agustus 2017 13 Agustus 2017
14 Agustus 2017 15 Agustus 2017 16 Agustus 2017 17 Agustus 2017 18 Agustus 2017 19 Agustus 2017 20 Agustus 2017
21 Agustus 2017 22 Agustus 2017 23 Agustus 2017 24 Agustus 2017 25 Agustus 2017 26 Agustus 2017 27 Agustus 2017
28 Agustus 2017 29 Agustus 2017 30 Agustus 2017 31 Agustus 2017 1 September 2017 2 September 2017 3 September 2017
Pada tanggal yang berwarna "HIJAU" ada jadwal kunjungan atau pelatihan, untuk lebih jelas coba klik tanggal yang berwarna "HIJAU"
Museum Batik Pekalongan

" Museum Batik Pekalongan berada di Jl. Jatayu No. 3 Kota pekalongan
, tepatnya di kawasan budaya Jatayu Pekalongan.

Telp : (0285) 431698

Fax : (0285) 423221

Email : Museum.batik@yahoo.com "

-- Selamat Berkunjung --

Batik Tionghoa Peranakan

Istilah Peranakan muncul untuk menyebut keturunan orang Tionghoa di Indonesia. Perantau Tionghoa datang ke Pulau Jawa mulai abad XII – XIII di sekitar pesisir utara. Para perantau kebanyakan berjenis kelamin pria karena perjalanan yang ditempuh sangat panjang dan berbahaya. Kemudian mereka banyak yang menikah dengan wanita setempat. Karena itulah anak cucu mereka disebut Cina atau Tionghoa Peranakan.  Di Jawa, banyak dari mereka yang mata pencahariannya adalah berdagang. Di akhir abad XVII, diketahui banyak dari mereka yang juga berdagang batik buatan rakyat setempat. Mereka mengumpulkan batik-batik dari pengerajin kemudian menjual kepada konsumen. Hingga akhirnya lama kelamaan mereka membuat batik sendiri dan memulai usaha pembatikan.

tokwiKain Batik Tokwi

(photo :http://indonesianstraitchinese.blogspot.co.id/2014/08/straits-chinese-batik-altar-cloth.html)

Budaya berpakaian Cina Keturunan juga menampilkan kekhasan. Sudah sejak lama mereka menyukai memakai kain batik, dipadu dengan atasan kebaya. Kebaya border tembus pandang yang biasa mereka pakai biasa disebut KebayaEncim. Encim adalah sebutan untuk wanita dewasa yang sudah menikah, atau di Indonesia dikenal dengan sebutan Nyonya. Masyarakat Cina kebanyakan tersebar di kota-kota besar. Beberapa daerah yang banyak menampilkan batik Peranakan ini adalah Pekalongan, Cirebon, dan Lasem.

Beberapa kain batik yang khas dihasilkan oleh Cina Keturunan adalah kain panjang, sarung, kain gendongan bayi, dan tokwi. Tokwi adalah kain penutup bagian depan altar pemujaan nenek moyang. Sedangkan motif yang popular adalah buketan tionghoa, motif yang berupa simbol-simbol tradisional Tionghoa seperti banji dan hewan mitologi seperti burung hong. Cina Peranakan juga menyukai motif-motif India. Dalam hal pewarnaan, mereka menyukai warna-warna yang cerah dan berani. Berbeda dengan Batik Belanda yang seringnya hanya memunculkan keindahan, batik Peranakan tidak hanya tentang keindahan, namun ada filosofinya juga. Seperti lambang banji, hewan kilin, naga, bahkan warna hingga komposisi jumlah dan penempatan ragam hias mempunyai makna. Di Cirebon, budaya Tionghoa juga berbaur dengan budaya setempat menampilkan motif mega mendung yang menggambarkan awan mendung yang akan turun hujan sebagai lambang pengharapan akan berkah.

Di area Pekalongan, salah satu Batik Keturunan yang popular adalah Buketan, yang meniru Buketan Belanda.  Perbedaan lain motif buketan Belanda dan buketan Peranakan adalah biasanya buket belanda menampilkan latar polos ataupun dengan sedikit tanahan. Sedangkan buketan Tionghoa menampilkan detail yang kompleks dan rumit, yang biasa disebut batik alus atau alusan. Adalah Oey Soe Tjoen, seorang Cina Peranakan yang dikenal membuat batik paling alus di Jawa. Buketan Peranakan juga menampilkan bunga-bunga dari satu musim saja ataupun dari satu daerah. Tidak seperti Buketan Belanda yang bisa mencapur bunga dari berbagai musim ataupun mencampur bunga Nusantara dan bunga Eropa dalam satu buketnya. Selain Oey Soe Tjoen, di Pekalongan juga terkenal Kwee Nettie (istrinya), Liem Po Hin, Lim Ping We dan Oh Yoe May Nio.

pagi soreBuketan Pagi Sore – Oey Soe Tjoen

(taken from http://www.fashionpromagazine.com/2011/06/mengindahkan-kain-pesisir/)

pembatik keturunan tionghoaPembatikan Oey Soe Tjoen dan Kwee Netie

(photo: Buku Batik, Inger McCabe Elliot, 2004)

Di Lasem, Batik Peranakan berkembang pesat menampilkan kekhasan yang biasa disebut gaya laseman. Lasem terkenal dengan sebutan Little Tiongkok, karena pesatnya perkembangan Tionghoa disana. Banyak Cina Keturunan yang menjadi pengusaha batik. Pembatikan berada di bangunan tua khas Tionghoa dengan tembok-tembok tinggi, konon agar proses batik tetap terjaga kerahasiaannya. Motif Lasem menampilkan bentuk-bentuk dan hewan mitologi Tionghoa, serta ada juga yang dipengaruhi motif India. Warna paling khas dari Lasem adalah Merah Getih Pitek (merah darah ayam) yang berasal dari akar mengkudu / Pace (morinda), yang konon merah Lasem tidak bisa dihasilkan di daerah lain. Selain itu warna yang terkenal adalah Bang Biron (merah biru). Merah sendiri bagi masyarakat Tionghoa bermakna kemenangan dan keagungan.

bang bironBatik Bang Biron (merah Biru) Lasem, (Photo : Batik Pesisir Pusakan Indonesia, KPG Kepustakaan Populer Gramedia, 2011)

Hingga kini, Motif Batik Peranakan masih terus berkembang. Di Pekalongan dan Lasem, pembatikan lama diturunkan pada generasi berikutnya, dan masih meneruskan gaya khas motif lawasannya. Di Cirebon, motif mega mendung masih menjadi ikon batik kota tersebut. Pembatikan di Cirebon banyak terdapat di daerah Trusmi.

paksi nagaMotif Paksi Naga Lima dengan Mega Mendung dari Cirebon

(photo: http://cirebon-batik.blogspot.co.id/2010/02/sejarah-batik-megamendung-akulturasi.html)

Penulis     :Pasattimur Fajar Dewa

Referensi :

  1. Batik PesisirPusaka Indonesia, Koleksi Hartono Sumarsono, KPG (Kepustakaan Popular Gramedia), 2011
  2. Batik Design, Pepin Van Roojen, The Pepin Press, 2001