Museum Batik
Pekalongan
Museum Batik Pekalongan
GEDUNG MUSEUM
Desember 2017
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
27 November 2017 28 November 2017 29 November 2017 30 November 2017 1 Desember 2017 2 Desember 2017 3 Desember 2017
4 Desember 2017 5 Desember 2017 6 Desember 2017 7 Desember 2017 8 Desember 2017 9 Desember 2017 10 Desember 2017
11 Desember 2017 12 Desember 2017 13 Desember 2017 14 Desember 2017 15 Desember 2017 16 Desember 2017 17 Desember 2017
18 Desember 2017 19 Desember 2017 20 Desember 2017 21 Desember 2017 22 Desember 2017 23 Desember 2017 24 Desember 2017
25 Desember 2017 26 Desember 2017 27 Desember 2017 28 Desember 2017 29 Desember 2017 30 Desember 2017 31 Desember 2017
Pada tanggal yang berwarna "HIJAU" ada jadwal kunjungan atau pelatihan, untuk lebih jelas coba klik tanggal yang berwarna "HIJAU"
Museum Batik Pekalongan

" Museum Batik Pekalongan berada di Jl. Jatayu No. 3 Kota pekalongan
, tepatnya di kawasan budaya Jatayu Pekalongan.

Telp : (0285) 431698

Fax : (0285) 423221

Email : Museum.batik@yahoo.com "

-- Selamat Berkunjung --

Profil Pengusaha Batik Belanda

Istilah Batik Belanda mengacu pada motif kain batik yang dibuat oleh pengusaha batik orang Eropa ataupun Indo-Eropa di Indonesia. Trend Batik Belanda memunculkan berbagai macam motif menarik seperti Buketan, Kumpeni, dan Dongeng. Selain itu banyak juga yang memunculkan motif geomatris ala kain Sembagi dan Patola dari India, dan motif naturalis. Periode Batik Belanda dimulai dari pertengahan abad 19 hingga masa pendudukan Jepang (1940-1945). Pada masa itu banyak orang Indo-Eropa maupun asli Belanda yang menjadi pengusaha batik. Secara umum mereka tidak dapat atau tidak mahir membatik. Mereka membuat desain motif secara umum, kemudian mempekerjakan beberapa pembatik wanita, tukang warna colet dan celup. Berikut ini adalah beberapa pengusaha Batik Belanda.

  1. Carolina Josephina Von Franquemont

Von Franquemont adalah seorang Indo-Jerman yang memulai usaha batiknya pada umur 23 di tahun1840 di Surabaya. PadaTahun 1845 ia pindah ke Semarang dan membuka perusahaan Batik di tepi sungai lereng Gunung Ungaran. Faktor kemandirian dirinya diperkirakan yang mempengaruhi keputusannya untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya.

Banyak terobosan baru dalam karya batiknya terlebih pada desain dan warna. Pada saat itu batik masih dibuat memakai warna alami dari bahan nabati. Warna batik yang popular pada saat itu adalah coklat (sogan), biru (biron), merah (bangbangan), merahbiru (bang biron), dan merah ungu (bang ungon). Namun Von Franquemont berhasil menampilkan warna hijau khas (hijau kebiruan) yang tidak mudah luntur. Banyak yang sudah mencoba menghasilkan warna tersebut dari bahan alami, namun selalu luntur. Resep Von Franquemont berhasil menciptakan warna tersebut dengan mencampur beberapa zat warna dan pembabaran berulang sehingga tidak mudah luntur. Namun. Banyak pembatik lain mencoba meniru warna tersebut, walau demikian resep campuran warna tetap dia dirahasiakan.

batik frankemon

Batik Prankemon 1850 (photo: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007)

Batik Von Franquemont biasa disebut batik Prankemonan. Terobosan motif Prankemon yang sangat popular adalah batik dongeng. Batik dongeng menggambarkan cerita-cerita dongeng Eropa maupun non-Eropa, seperti motif putrid duyung, Dewi His Hwang. Von Franquemont juga menampilkan batik wayang. Selain itu Batik Prangkemonan juga menampilkan motif batik yang dipengaruhi budaya India dan China. Dalam batiknya, ia juga memperkenalkan pinggiran gaya baru yang meniru motif renda atau biasa disebut boog.

 

  1. Catharina Carolina Van Oosterom

Van Oosterom adalah tetangga Von Franquemont di Ungaran Semarang. Ia adalah seorang Indo-Belanda yang juga membuka usaha pembatikan. Batiknya dikenal sebagai batik Pastroman. Sekitar sepuluh tahun kemudian, Ia lalu pindah dan meneruskan usaha batiknya di Banyumas. Terjadi perubahan warna pada batik-batiknya, karena walaupun ia memakai campuran yang sama dengan Ungaran, air dan tanah Banyumas mumpunyai kandungan yang berbeda yang mempengaruhi warna. Karenanya, Batik Pastroman mempunyai warna yang unik. Di Banyumas, ia member warna baru pada gaya batik disana yang notabennya sangat terpengaruh oleh batik pedalaman.

carolin van oesten batik carolin van oesten

 

 

 

 

 

 

Van Oosteromdan Batik Pastroman(photo: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007)

Van Oosterom sering menampilkan motif tentang peristiwa tertentu, seperti misalnya motif gedung opera pertunjukan. Ia juga sering menampilkan corak Eropa pada motifnya seperti Cupido (Dewa Asmara), bunga, dan tandan buah anggur. Ia meninggal pada 11 Januari 1877.

 

  1. Lien Metzelaar

Metzelaar memulai usaha batiknya di Pekalongan pada tahun 1880 hingga 1916, tepat pada masa keemasan perdagangan batik tulis. Untuk modal usahanya, ia di bantu oleh sorang saudagar batik Arab bernama Baoudjir. Kemudian ia membantu menjualkan batik-batiknya ke Batavia. Sementara untuk penjualan, ia juga dibantu oleh kemenakannya, Lien Antonijs-de Beer, memasarkan batiknya kewanita kalangan atas Eropa di Pekalongan.

metzelar batik metzelar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

L Metzelaardan batik bangau, 1900 (photo: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007)

Ia mempelopori penggunaan kepala bermotif bunga-bunga, bukan pasung seperti pada umumnya. Salah satu kepala batik yang terkenal adalah penggunaan gambar bangau, yang kemudian banyak ditiru oleh pembatik lain. Ia juga mempelopori tata letak batik terang bulan. Ia juga yang menginspirasi munculnya motif buketan yang dibuat oleh Van Zuylen, walau dalam batiknya buketan hanya berupa rangkuman bunga dalam pola sederhana. Ia menandatangani karyanya dengan tulisan “L. Metzelaar Pekalongan”, lalu berganti “L. Metz Pek”.

Lien menjual rumah dan perusahaan batiknya pada tahun 1916. Ia kemudian pindah ke Bandung dan membeli rumah disana. Selanjutnya ia berpindah-pindah ke Yogyakarta dan Surakarta dan meninggal disana pada tahun 1930. Jasadnya dibawa dan dimakamkan di Kota Pekalongan.

 

  1. Eliza Charlotte (Lies) Van Zuylen

Sebernarnya ada 2 nama pembatik dari keluarga Van Zuylen yaitu Christina (Tina) dan Eliza (Lies). Tina adalah kakak dari Lies. Tina yang pertama kali mngikuti pindah ke Pekalongan pada tahun 1885, dan memulai usaha batik, mengikuti sahabatnya disana yaitu Lien Metzelaar. Lalu Lies Van Zuylen juga mengikuti suaminya, Alphons, Pindah ke Pekalongan pada tahun 1888. Dia kemudian mempelajari usaha batik melalui kakaknya. Tina kemudian pindah lagi ke Kemayoran Kecil pada tahun 1920, dan meninggal dunia pada tahun 1930. Lies tetap tinggal di Pekalongan meneruskan usaha batiknya.Usaha batik Van Zuylen berkembang pesat, dan ia mampu menaikkan perekonomian keluarga dan pindah kekawasan yang lebih bergengsi di Heerenstraat, Pekalongan.

van zuilen

Keluarga Van Zuylen, Lies Van Zuylenwanitabesar duduk ditengah

boket panselen

BuketPanselen(photo: Batik Belanda 1840 – 1940, Hermen C Veldhuisen, Gaya Favorit Press 2007)

Batik Van Zuylen biasadisebut  “panselen”. Motif paling popular yang ia ciptakan adalah Buketen, yang berasal dari Bahasa Perancis, Bouquet, yang artinya adalah serangkaian bunga. Biasanya pola buketan disusun berulang pada bagian badan kain. Pada bagian kepala terkadang menampilkan pola buketan yang berbeda dengan bagian badan. Ia membuat desain buketan, terkadang mengambil referensi dari majalah yang digunting dan diatur letaknya hingga menyerupai buket. Terkadang ia mencampur bunga musim semi dan bunga musim gugur, bunga dari Indonesia dicampur dengan bunga Belanda. Pencampuran itu menimbulkan kesan keakraban. Karya batiknya menampilkan kombinasi warna yang cantik, dan kerap menampilkan warna pastel yang lembut.Pada akhir masanya, ia juga menampilkan motif buketan dengan gaya pagi sore.

Motif buketan panselen ini banyak ditiru oleh pembatik lain. Pembatik keturunan Tionghoa kerap menampilkan motif buketan. Salah satu perbedaannya, buketan ala tiongho amenampilkan detail yang kompleks baik di ragam hias maupun di latar. Sementara buketan panselen menampilkan latar yang tidak terlalu rumit. Walau demikian, Van Zuylen juga kerap meniru motif-motif batik ala keturunanTionghoa. Eliza meninggal dunia akibat diabetes di biara suster ordo Fransiskan, dan dimakamkan di Pekalongan pada tahun 1947.

Penulis : Pasattimur Fajar Dewa

Referensi :

  1. Batik Belanda 1840 – 1940, Harmen C Veldhuisen. Gaya Favorit Press, 2007
  2. Batik Indonesia: MahakaryaPenuhPesona, Kaki LangitKencana , 2015
  3. Batik PesisirPusaka Indonesia, Koleksi Hartono Sumarsono, KPG (Kepustakaan Popular Gramedia), 2011