Museum Batik
Pekalongan
Museum Batik Pekalongan
GEDUNG MUSEUM
Agustus 2017
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
31 Juli 2017 1 Agustus 2017 2 Agustus 2017 3 Agustus 2017 4 Agustus 2017 5 Agustus 2017 6 Agustus 2017
7 Agustus 2017 8 Agustus 2017 9 Agustus 2017 10 Agustus 2017 11 Agustus 2017 12 Agustus 2017 13 Agustus 2017
14 Agustus 2017 15 Agustus 2017 16 Agustus 2017 17 Agustus 2017 18 Agustus 2017 19 Agustus 2017 20 Agustus 2017
21 Agustus 2017 22 Agustus 2017 23 Agustus 2017 24 Agustus 2017 25 Agustus 2017 26 Agustus 2017 27 Agustus 2017
28 Agustus 2017 29 Agustus 2017 30 Agustus 2017 31 Agustus 2017 1 September 2017 2 September 2017 3 September 2017
Pada tanggal yang berwarna "HIJAU" ada jadwal kunjungan atau pelatihan, untuk lebih jelas coba klik tanggal yang berwarna "HIJAU"
Museum Batik Pekalongan

" Museum Batik Pekalongan berada di Jl. Jatayu No. 3 Kota pekalongan
, tepatnya di kawasan budaya Jatayu Pekalongan.

Telp : (0285) 431698

Fax : (0285) 423221

Email : Museum.batik@yahoo.com "

-- Selamat Berkunjung --

Kunjungan Pak Ganjar ke Museum Batik Pekalongan

0851060batikraja780x390

Motif batik tulis yang dikenakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo adalah batik berjenis parang. Batik jenis ini biasanya dipakai oleh para raja atau keluarga raja di Kerajaan Mataram Kuno.

“Jadi, cocok dengan bapak,” kata pemandu wisata Museum Batik Pekalongan, Eka Fitria Ningrum, saat orang nomor satu di Jateng itu berkunjung di museum tersebut, tengah malam, Kamis (3/9/2015) kemarin.

Ganjar mengenakan batik parang berwarna corak cokelat berpadu dengan hitam dan putih. Batik pun didesain modern dengan kerah berpadu dengan aksesoris lain. Pola itulah yang biasanya dipakai para raja di kerajaan Mataram.

Kunjungan ke Museum Batik Pekalongan itu terkesan mendadak karena memang tak terjadwal. Apalagi, Ganjar datang tengah malam pukul 22.00 WIB hingga selesai 23.15 WIB. Museum yang dibuka saban hari sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, tak menyambut kehadiran Ganjar.

Untungnya, pengelola setempat bersedia membukakan pintu museum yang berada di tengah Kota Pekalongan tersebut. Di tempat tersebut, Ganjar melihat koleksi museum batik dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ganjar juga berkesempatan diajari cara membuat batik tulis menggunakan canting, serta praktik batik cap.

Usai melihat dan berkunjung itulah, ia menyatakan kekagumannya. Industri batik di Jawa Tengah, terutama di Pekalongan, Solo sudah berkembang pesat, hingga mampu menangkap peluang memadukan beragam motif batik dengan industri dunia modern. Sehingga batik bisa dibuat lebih tren dan sensual.

Batik juga telah berkembang dengan baik, sebagai warisan budaya dunia dari Unesco. Ganjar meminta agar kualitas, kreatifitas, hingga unsur heritage-nya dipertahankan. “Jangan sampai order batik turun. Kalau ada yang mempermasalahkan limbahnya ya kita selesaikan. Kalau gara-gara limbah kemudian dipermasalahke, tak lawan, tak bantu,” ujar dia.

Kepada para pejabat daerah serta pengusaha batik, Ganjar minta agar mereka juga berusaha mengurai persoalan limbah batik. Ia tak ingin batik yang berkembang baik akan gulung tikar karena limbahnya. “Coba kelola dengan baik, munculkan inovasi dengan pewarna alam,” tambahnya.

Terlepas dari itu, Ganjar ingin agar batik Pekalongan bisa terus berkreasi mengembangkan desainnya. Meski saat ini desain sudah dinamis, modern, ia ingin agar pemasaran dan kebutuhan warga bisa terus ditingkatkan. “Saya ingin warga itu ketika belajar batik tempatnya di Pekalongan. Saya penggila batik. Saya punya banyak koleksi batik,” imbuhnya lagi.

 

Kutipan : http://regional.kompas.com/read/2015/09/04/09225611/Mendadak.Tengah.Malam.Ganjar.Datangi.Museum.Batik.Pekalongan

DSC_0155

DSC_0193

DSC_0208

DSC_0241